PEMBAHASAN
- Pendahuluan
- The Jesus of History= the Christ of Faith
- Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith
- Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus
- Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara
- Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini
- Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!
- Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini
- Penutup
Pendahuluan
Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!The Jesus of History= the Christ of Faith
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.
Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith
Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835[1] yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Krsiten berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati di salib.[2] Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen (baca: Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?), yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.
Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus
Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:1) Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD.[3] Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah.[4] Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
2) Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
3) Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
4) Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi.[5]
5) Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan kekempat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.
Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara
Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:1) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
2) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
3) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).
4) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
5) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
6) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
7) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
8) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
9) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
10) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
11) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
a) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
b) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
c) Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
d) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
e) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
f) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8] h) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
12) Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)
13) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
14) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
15) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
16) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini
Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, dengan mengalami sendiri Yesus yang bangkit, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!
Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini.[9] Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini
Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18).[10] Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19).[11]Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini[12] : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.[13]
Penutup
Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!CATATAN KAKI:
- David Friedrich Strauss adalah tokoh Biblical Rationalism yang memakai filosofi Hegel untuk meneliti hidup Yesus. Buku karangannya adalah, Life of Jesus Critically Examined, dan ia berkesimpulan bahwa alkitab adalah mitos dan bukan sejarah. [↩]
- Rudolf Bultmann, The History of the Synoptic Tradition, 1921, diterjemahkan oleh J Marsh, (Oxford, Blackwell, 1963) dan essaynya “The New Testament and Mythology”, dalam In Kerygma and Myth: A Theological Debate, vol.1, diterjemahkan oleh R.H. Fuller (London, 1953). [↩]
- Dalam hal urutan keempat Injil ini memang terdapat beberapa pendapat. Namun yang di sini dipakai adalah yang berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yang dapat dikatakan mengamati langsung penurunan Injil. Saksi utama adalah Papias (70-155 AD) seorang uskup Syria dan murid Rasul Yohanes, dan St. Irenaeus (180 AD) yang mengatakan urutan Injil adalah Rasul Matius, yang pertama menuliskan Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian Markus yang adalah murid Rasul Petrus yang menuliskan Injil berdasarkan khotbah Petrus; lalu Lukas yang adalah murid Rasul Paulus, yang menulis berdasarkan khotbah Rasul Paulus, dan Rasul Yohanes, yang menulis Injil saat ia hidup di Efesus, Asia Minor. Namun demikian, pada jaman Kulturkampf (1871-1878), mulai dikatakan bahwa Injil pertama adalah Markus, baru kemudian Matius, Lukas dan Yohanes. Alasannya antara lain karena, Injil Markus tidak dituliskan dengan urutan yang baik, dan kisah Injil Markus banyak terdapat di-Injil sinoptik lainnya, seolah Injil yang lain ‘mengutip’ Markus. Mengenai hal ini Papias mengatakan, bahwa Injil Markus dituliskan tidak berurutan secara historis, karena dituliskan berdasarkan urutan khotbah Petrus. Sedangkan kenyataan bahwa Injil Markus seolah ‘menggabungkan’ kisah dari Injil sinoptik lainnya semakin memperkuat keilahian pesannya, sebab meskipun Injil ditulis oleh beberapa orang, namun dapat menunjukkan kesamaan inti dan isi ajaran Yesus.
[↩] - Klaim yang menolak kebangkitan Yesus hanya datang di abad-abad berikut, yang pada dasarnya tidak mempercayai kebangkitan, dan bukannya dikatakan dari saksi mata pada jaman Yesus sendiri. [↩]
- Lihat Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 229 [↩]
- Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11). [↩]
- Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Ibid., p. 108-109, mengutip Rabbi Neusner (Jacob Neusner, A Rabbi Talks with Jesus (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2000), membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babilonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
I: “Nothing.” (Tidak ada)
He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?).
I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu). [↩] - Ungkapan “kamu mengatakan demikian….” Adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang menyatakan konfirmasi dari apa yang dikatakan. [↩]
- Ada kebohongan besar dalam buku Da Vinci Code yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus hanya dilihat sebagai Nabi dan manusia biasa, dan bahwa diadakan voting pada Konsili tersebut yang hanya berselisih tipis antara uskup yang menerima dengan yang menolak . Kenyataan sejarah yang benar adalah, dari 300 uskup yang hadir, hanya dua orang uskup yang setuju dengan pendapat Arius, (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea) yaitu, Arius sendiri dan Eusebius dari Nicomedia! [↩]
- Vatikan II, Dei Verbum, 18, mengatakan, “Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes.” [↩]
- Vatikan II, Dei Verbum 19, “…bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya diantara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis1:1-2). Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.” [↩]
- Lihat Katekismus Gereja Katolik 512- 682 [↩]
- Lihat Joseph Ratzinger, Gospel, Catechesis, Catechism: Sidelights on the Catechism of the Catholic Church, p. 64-66. [↩]
saya mau tanya knp grja katolik mengakui adanya keselamatan di agama lain.. ini tercantum dalam konsili vatikan 2, padahal kita tahu dalam injil mengatakan bahwa “Akulah jalan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. gereja protestan sendiri pun tidak mengakui adanya keselamatan diluar kristus..
makasi.. GBU
Terima kasih atas pertanyaannya tentang konsep keselamatan. Gereja Katolik mempunyai pengajaran yang sama, yaitu tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik (extra ecclesiam nulla salus). Namun, hal ini harus dimengerti seperti yang Gereja maksudkan. Untuk itu, saya ingin menyarankan untuk membaca beberapa artikel ini:
Penjelasan tentang Deklarasi Dominus Iesus
Keselamatan dan hubungannya dengan Baptisan
Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya pasti masuk neraka?
Keselamatan: theosentris, kristosentris, eklesiosentris?
Apa itu “Implicit desire for Baptism?”
Apakah orang Katolik dijamin pasti selamat?
Baptisan rindu menurut St. Thomas
Dosa menghujat Roh Kudus – dosa yang tak terampuni
Tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus
Sekali selamat tetap selamat – tidak Alkitabiah
Siapa saja yang dapat diselamatkan?
Apakah agama membuat orang masuk Sorga?
Apakah orang yang tidak dibaptis masuk neraka?
Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
saya mengambil cuplikan kata2 diatas, kita harus ingat saat para Rasul diturunkan ke suatu kaum/bangsa dia akan memperkenalkan dirinya siapa dia dan apa tujuannya karena memang kalo tidak diberitau semua orang tidak akan tau siapa dia dan apa tujuannya,begitu juga Tuhan dengan melalui para Rasul sebagai perantara untuk menyampaikan siapa Tuhan dan apa tujuannya dengan mengambil kitab suci sebagai panduan untuk memperkenalkan diriNYA karena Tuhan adalah zat yg Maha Dahsyat dan Maha Suci dan Maha Besar sehingga tidak mungkin memperkenalkan diriNYA secara langsung. Dari cerita diatas bagaimana seseorang kalau tidak pernah mendengar beritanya atau mendengar namanya misalnya saja anda tinggal di hutan yg tidak terhubung dengan dunia luar apakah anda akan mengenal Bill Gates. Jadi tidak mungkin kita langsung mengenal siapa si anu tanpa pernah mendengar/mempelajari tentang si anu.
Seperti cerita Nabi Musa : Suatu ketika, Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan, agar hatinya semakin yakin. Tuhan sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu melihat Tuhan. Tetapi beliau ‘ngotot’ untuk bisa melihatNya. Maka, Tuhan pun memenuhi keinginan Nabi Musa. Tapi apa yg terjadi ? Tuhan baru menampakkan cahayaNya saja, Gunung Sinai tempat berpijak Nabi Musa mengalami gempa vulkanik yg luar biasa dahsyat. Sehingga Musa pun terpental dan pingsan.
Setelah siuman beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat Tuhan dengan panca indera. Jangankan manusia, alam semesta pun tidak mampu menerima Eksistensi Zat Yang Maha Besar dan Maha Agung itu.
“Dan ketika Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa : Ya Tuhanku, nampakkanlah (DiriMu) kepadaku agar aku dapat melihatMu. Tuhan berfirman : Kamu sama sekali tidak akan mampu melihatKu, tapi lihatlah gunung itu, jika ia tetap ditempatnya, maka kamu akan mampu melihatKu. Ketika Tuhan menampakkan Diri kepada gunung itu, maka hancurlah gunung itu, dan Musa pun pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata : Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
Dan firman berikut :
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata denganNya kecuali dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadaNya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Bijaksana.”
Kalau kita simak saat Yesus hidup, waktu itu bangsanya dalam kekuasaan/jajahan bangsa romawi dan Yesus hanya mempunyai 12 murid yang artinya dia hanya mempunyai 12 pengikut, saat kejadian penangkapan Yesus disebabkan karena Pemerintahan romawi menghawatirkan tentang keberadaan Yesus dan pengikutnya yg dapat mempengaruhi rakyat lain untuk tujuan pemberontakan ke Kaisar Romawi saat itu, sehingga Yesus ditangkap dan diadili dengan menyalibnya. Dengan sedikit cerita itu bagaimana mungkin Yesus dianggap “Penebus Dosa Manusia”, dan tugas Yesus adalah menyampaikan wahyu kepada bangsa/kaum saat itu. makanya didalam injil lebih banyak kata2 “hai bani israel” atau “hai Israel” karena saat itu injil hanya untuk kaum/bangsa israel aja.
Terima kasih atas pertanyaanya tentang Yesus Kristus.
1) Yanto mengatakan "saya mengambil cuplikan kata2 diatas, kita harus ingat saat para Rasul diturunkan ke suatu kaum/bangsa dia akan memperkenalkan dirinya siapa dia dan apa tujuannya karena memang kalo tidak diberitau semua orang tidak akan tau siapa dia dan apa tujuannya." Saya memakai contoh yang diberikan, yaitu tentang Bill Gates dengan segala kekayaannya, untuk menyanggah begitu banyak saudara dari agama yang lain, yang menuntut ke-Allahan Yesus dengan syarat yang dibuatnya sendiri, yaitu bahwa Yesus harus mengatakan "Aku adalah Tuhan dan sembahlah Aku". Dalam beberapa artikel saya ingin menegaskan bahwa Yesus memperkenalkan siapa diri-Nya, tujuan Dia datang, dengan begitu banyak cara, termasuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan bukan hanya sekedar rasul. Kalau saja, Yanto membaca beberapa artikel Kristologi berikut ini, maka Yanto akan dapat melihatnya. Silakan membaca artikel-artikel ini:
Mat 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi." (Mt 17:12). Dan kembali Dia mengatakan "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia" (Mt 17:22), yaitu kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli hukum taurat (Mt 20:18).
2) Bagi umat Kristen, Tuhan bukanlah suatu zat, namun sebuah pribadi. Tentu saja umat Kristen setuju dengan pertanyaan Yanto, bahwa Tuhan adalah Maha Suci dan Maha Besar. Namun di satu sisi Tuhan juga Maha Kasih. Dan kasih-Nya kepada umat manusia dibuktikan dengan mengirimkan Putera-Nya untuk menebus dosa umat manusia, sehingga manusia dapat bersatu dengan Pencipta-Nya. Dengan Yesus Tuhan menjadi manusia, maka derajat Tuhan bukan direndahkan, namun justru ditinggikan, karena Dia telah membuktikan kasih-Nya kepada umat manusia secara luar biasa dan sempurna. Dengan inkarnasi, Tuhan membuktikan bahwa Dia bukan hanya Maha Besar, namun juga Maha Kasih. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha dalam segalanya dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, maka tidak ada yang melarang Tuhan kalau di dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memilih untuk datang ke dunia secara langsung, dalam rupa Yesus Kristus. Jadi, Tuhan yang menjadi manusia tidaklah bertentangan dengan hakekat Tuhan.
3) Yanto mengatakan "Dari cerita diatas bagaimana seseorang kalau tidak pernah mendengar beritanya atau mendengar namanya misalnya saja anda tinggal di hutan yg tidak terhubung dengan dunia luar apakah anda akan mengenal Bill Gates. Jadi tidak mungkin kita langsung mengenal siapa si anu tanpa pernah mendengar/mempelajari tentang si anu."
Setelah siuman beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat Tuhan dengan panca indera. Jangankan manusia, alam semesta pun tidak mampu menerima Eksistensi Zat Yang Maha Besar dan Maha Agung itu."
St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theology, III, q.42, a.1, mengatakan bahwa sudah selayaknya bahwa Yesus pada awalnya melakukan karya publik-Nya (public ministry) kepada orang Yahudi, dengan alasan keadilan (justice) dan perantara (mediation).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Beberapa waktu yg lalu saya baca jawaban pertanyaan di Web. anda ttg jangan merokok yg anda ambilkan dari Katekismus/Kitab Hukum Kanonik.Waktu itu saya tak sempat catat dgn baik,sewaktu saya akan catat saya tak dpt menemukannya kembali.Sudikah Pak Stef & Ibu Ingrid menirimkan copy jawaban itu ke saya.Terima kasih atas bantuannya.
Syalom
kusnadi.
Untuk jawaban tentang apakah merokok boleh atau tidak silakan untuk membacanya di jawaban ini (silakan klik). Semoga jawaban tersebut dapat membantu. Untuk melihat arsip tanya jawab yang lain silakan melihatnya di sini (silakan klik).
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
Semoga Pak Stefanus berkenan menjawab dua pertanyaan berikut ini:
(1) Saya pernah membaca nubuat bahwa Yesus sebagai Mesias akan melewati gerbang timur Bait Allah dengan menunggang keledai (Minggu palma) dan sesudah itu, gerbang timur tidak akan dilewati oleh siapa pun. Selanjutnya gerbang timur ditembok oleh Kaisar Romawi pada jaman tersebut dan Bait Allah kemudian diruntuhkan sehingga nubuat tersebut memang terpenuhi. Apakah Pak Stefanus dapat menjelaskan lebih lanjut mengapa gerbang timur Bait Allah dianggap begitu penting sehingga dinubuatkan? Mengapa Yesus memilih keledai sebagai tunggangan-Nya? Apakah hal ini dilakukan-Nya untuk menggenapi nubuat tersebut?
(2) Saya masih ingin bertanya lebih lanjut tentang sola fide yang merupakan keyakinan saudara kita yang beragama Protestan dan pernah dibahas sebelumnya dalam kaitan tentang artikel bahwa Paus Benedictus juga mengakui kebenaran sola fide Martin Luther. Dalam Roma 3:27-28 terdapat ayat yang bunyinya, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Saudara kita yang beragama Kristen Protestan mengatakan bahwa ayat inilah yang digunakan oleh Martin Luther untuk melandasi azas sola fide sebagai syarat keselamatan jiwa, namun ajaran Gereja Katolik menjatuhkan kutuk (ananthema) terhadap azas sola fide ini melalui keputusan Konsili Trente kanon 9 dan 14? Apakah memang benar demikian dan apakah kata ananthema berarti kutukan; bagaimana menjawab pertanyaan yang diajukan oleh saudara kita yang beragama Protestan? Terima kasih.
Terima kasih atas pertanyaannya. Maaf, saya baru dapat menjawabnya sekarang karena kesibukan kuliah. Mari kita melihat pertanyaan Andryhart satu-persatu.
A. GERBANG TIMUR (GOLDEN GATE):
(1) Beberapa fakta tentang Gerbang Timur:
Gerbang Timur juga disebut gerbang raja (2 Raj 15:35).
(3) Jadi memang sampai saat ini, gerbang Timur ini masih tertutup. Apakah memang ini adalah bukti dari nubuat Yehezkiel? Saya tidak tahu persis. Yang jelas, kita harus percaya bahwa Yesus akan datang kedua kali, perkara Dia akan datang di mana dan apakah melalui pintu gerbang Timur, tidaklah terlalu penting. Yang terpenting adalah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk Kristus yang datang kedua , saat Dia akan datang dalam kemuliaan, seperti yang ditegaskan dalam KGK "Di dalam Yesus, Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus meminta supaya kita bertobat dan percaya, tetapi juga supaya berjaga-jaga. Dalam doa, murid menantikan dengan penuh perhatian Dia yang ada dan yang datang, sambil mengingat kedatangan pertama dalam kerendahan daging dan berharap akan kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan. Doa murid-murid adalah satu perjuangan, yang dimenangkan dalam persekutuan dengan Guru: siapa yang berkanjang dalam doa, tidak masuk ke dalam percobaan" (KGK, 2612).
(4) Beberapa bapa gereja mengartikan bahwa Yehezkiel 44 menghubungkan gerbang ini dengan gerbang kesucian dari Bunda Maria, dimana hanya Kristus sendiri yang lewat. (lih. Ochard, Dom Bernard, A Catholic Commentary on Holy Scripture, hal. 619).
B. MENGAPA YESUS MEMILIH KELEDAI?
Kristus masuk ke kota Yerusalem dengan menunggang keledai, seperti yang diceritakan di Lk 19:28-40; Mt 21:1-9; Mk 11:1-10; Yoh 12:12-19. Dan ini memang mempunyai beberapa alasan:
(1) Merupakan pemenuhan dari nubuat Zakharia yang mengatakan "9. Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. 10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi." (Za 9:9-10).
Inilah sebabnya Alkitab dapat dipercaya, karena nubuat yang dibuat sekitar tahun 520-518 SM terpenuhi dalam diri Yesus, sekitar tahun 33 AD. (lih. Mt 21:5; Yoh 12:15).
(2). Keledai juga menjadi suatu simbol kelemah-lembutan. Dan nabi Zakharia memberikan kontras antara Mesias yang lemah lembut dan mengendari seekor keledai, akan melenyapkan segala kekuatan dari dunia ini yang dilambangkan dengan kereta, kuda, busur perang, dll. Yesus menjadi raja, dengan cara meraja di hati manusia, tidak dengan peperangan atau pedang, namun dengan kasih, seperti yang diajarkan dan dilakukan-Nya.
B. SOLA FIDE (ROMA 3:27-28):
Memang saudara kita, Kristen Protestan mempercayai sola fide. Dan ini telah dibahas disini (silakan klik) dan tentang konsep keselamatan telah dibahas disini (silakan klik).
Dan Kristen-non Katolik memang mengambil ayat Rm 3:27-28 " 27. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 28.Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat." Karena Ingrid dan saya telah menjawab dalam beberapa pertanyaan tentang ini, maka saya akan mencoba memberikan jawaban dari Rm 3:27-28.
(1) Pengertian anathema secara lengkap dapat dilihat di New Advent (silakan klik), yang dapat ditelusuri perkembangannya di dalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rasul Paulus mengatakan anathema di Rm 9:3 "Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. " dan juga Gal 1:9 "Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia".
(2) Dan selanjutnya mengalami perkembangan, dan pada Decree of Gratian (c. III, q. V, c. XII) dikatakan bahwa eks-komunikasi adalah terpisah dari kelompok persaudaraan, namun anathema mengacu kepada pemisahan dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja.
Untuk menegakkan kebenaran dan agar umat tidak bingung dengan berbagai macam doktrin dan pengajaran yang tidak sesuai dengan pengajaran Katolik, maka Gereja harus menyatakan secara tegas bahwa orang tersebut telah melanggar suatu kebenaran. Dan diharapkan dengan anathema dan juga eks-komunikasi, orang tersebut akan sadar dan dapat kembali setia terhadap Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus, beserta dengan seluruh pengajarannya. Lebih lanjut tentang makna eks-komunikasi dapat dibaca pada jawaban ini (silakan klik).
(3) Yesus sendiri menegaskan di Mat 18:15-17 "15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. 17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat (Gereja), pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai."
Itulah yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan Andryhart. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
Pada suatu hari, seorang pangeran Arab, Abd-ed-Kader, berjalan bersama seorang pejabat Negara Perancis di sepanjang jalan Marseille, Perancis. Tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan seorang pastor yang sedang membawa piala berisi hosti untuk diberikan kepada seseorang yang sedang berada di ambang ajalnya. Pejabat Perancis itu segera berhenti, menundukkan kepalanya dan berlutut seraya membuat tanda salib. Sahabatnya, pangeran Arab itu, bertanya mengapa dia bertingkah seperti itu.
“Saya sangat memuja Tuhanku yang tengah dibawa oleh pastor itu kepada orang sakit,” jawab sang pejabat Perancis.
“Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi,” sang panggeran bertanya, “Mengapa anda begitu merendahkan Tuhan yang anda imani sebagai Allah yang Mahakuasa dengan membiarkan Tuhan anda mendatangi rumah orang yang miskin? Jadi, berbeda dengan agama anda, kami menganut agama yang sangat memuliakan Tuhan.”
Pejabat itu menjawab, “Ya, itu bisa saja terjadi karena anda hanya memahami sifat Tuhan yang mahakuasa tetapi tidak memahami kasih-Nya yang begitu besar.”
Jadi, mengapa Allah bersedia menjadi manusia untuk dilecehkan, dianiaya dan disalib. Jawabnya hanya satu: karena kasih Allah yang mahabesar kepada umat manusia ciptaannya. Keadaan ini sama seperti seorang pematung yang akan melakukan pengorbanan apa saja untuk menyelamatkan patung ciptaannya yang sangat disayanginya.
Tuhan memberkati.
Saya adalah seorang Kristen Protestan yang sedang bertumbuh dalam iman. Jujur, saya senang sekali adanya website ini, apalagi dalam hal tanya jawab terutama kepada saudara2 kita yang Muslim, bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan (seperti meragukan Ketuhanan Yesus Kristus). Tetapi dengan segala hormat, jika saya boleh bertanya apakah Paus yang hidup di jaman pertengahan, walaupun ia adalah wakil Kristus dengan tradisi Rasul Petrus (menurut Doktrin katolik) berdosa dan masuk neraka, karena ia telah melakukan penyelewengan terhadap Alkitab (misal dalam Ilmu Pengetahuan), menjadikan diri lebih berkuasa dan mentasbihkan diri in affabilities (tidak ada salah)serta membunuh orang karena alasan heretik. yang kedua, apakah orang di luar Katolik walaupun ia Kristen bisa masuk sorga (katakanlah jika ada 2 orang, Kristen Katolik dan Kristen Protestan yang sama baik, apakah kedua – duanya akan ada di Rumah Bapa)dan yang ketiga, apakah Muhammad masuk neraka!
Tuhan Yesus Kristus memberkati
(I) Pertanyaan dari orang Muslim: memang bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka pertanyaan tentang ke-Tuhanan Yesus Kristus tidak perlu lagi dipertanyakan. Namun bagi saudara kita kaum Muslim, ini adalah pertanyaan yang wajar, karena mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Tentu saja kita harus menghargai pertanyaan mereka dan kita berharap bahwa mereka bertanya dengan niat yang baik. Kita percaya bahwa pencarian kebenaran yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menuntun semua orang kepada Kebenaran itu sendiri, dimana sebagai umat Kristen, kita mempercayai bahwa Kebenaran dapat ditemukan di dalam diri Yesus Kristus (Yoh 14:6).
(II) Mari kita sekarang melihat pertanyaan yang lain dari Fredy, yaitu tentang konsep keselamatan dari Gereja Katolik.
B) Beberapa pertanyaan tentang hal ini telah saya jawab di sini (silakan klik).
C) Paus yang hidup di abad pertengahan apakah masuk neraka?
E) Apakah Muhammad atau umat non-Kristen dapat diselamatkan? Bagi bangsa-bangsa lain sebelum kedatangan Kristus dan juga orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus: Dua kategori orang-orang ini terikat oleh hukum yang dituliskan oleh Tuhan sendiri di dalam hati mereka masing-masing, atau yang disebut "natural law" atau hukum kodrat. 10 perintah Allah adalah manifestasi yang sempurna dari hukum kodrat sehingga dengan demikian mengikat seluruh manusia, tanpa memandang suku, bahasa, maupun kebudayaan, karena prinsip 10 Perintah Allah ini sebenarnya ada di dalam hati semua orang. Semua suku dan bangsa yang tidak mengenal Tuhan, melihat bahwa seorang anak yang tidak menghormati orangtuanya adalah berdosa, seorang yang membalas kebaikan dengan kejahatan adalah salah. Hukum kodrat ini adalah sebagai akibat dari hakikat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah, yang mampu untuk menangkap konsep sesuatu yang "baik", mampu untuk mencari kebenaran, mampu untuk menemukan Pencipta-Nya, mampu untuk bersosialisasi, dll. Dan hukum alam ini mengikat manusia, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di Rom 2:15 "Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela." Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]
Sebagai contoh dari "bukan karena kesalahan mereka sendiri" adalah orang-orang yang hidup sebelum Kristus, dan juga orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah orang-orang dari agama lain, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan "motive of credibility" (penjelasan dasar yang meyakinkan) yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, bukan karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus. Namun saya ingin menegaskan disini, bahwa kuncinya adalah apakah orang tersebut tidak mau menjadi Kristen karena "invincible ignorance" (ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari) ataukah karena memang kepentingan pribadi, misalkan untuk mendapatkan pangkat, dll. Di sini perlu dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran di atas segalanya. Maksudnya adalah apakah orang tersebut di dalam kapasitasnya benar-benar mencari kebenaran atau Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Dan dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu secara persis apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Untuk itulah, maka Gereja tidak akan pernah berkata bahwa seseorang pasti masuk neraka, namun Gereja dapat berkata orang tersebut mempunyai risiko kehilangan keselamatannya. Di sinilah pentingnya bagi orang yang telah mengenal Kristus untuk hidup kudus, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
Ada dua hal yang membuat saya tetap memeluk agama Katolik (karena saya tidak terlahir dalam keluarga yang beragama Katolik):
(1) Ajaran Yesus seperti Khotbah di Bukit kelihatannya tidak masuk di akal manusia sekalipun mengandung kebenaran Ilahi. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa Khotbah di Bukit menunjukkan mentalitas budak dan gaya hidup sang pencundang. Albert Schweitzer mengatakan bahwa manusia kebanyakan tidak mungkin melaksanakan ajaran Kristus tersebut. Hanya orang-orang suci dan Mahatma Gandhi yang kelihatannya bisa mengamalkan ajaran ini. Ajaran Yesus lainnya seperti mengampuni musuh yang telah menganiaya kita dan bahkan berdoa baginya juga tidak masuk di akal manusia sekalipun ampuh untuk menghilangkan dendam dan permusuhan yang merugikan kesehatan dan keselamatan diri kita sendiri.
(2) Teladan yang diperlihatkan oleh para pengikut Kristus dalam 300 tahun pertama. Mereka telah dianiaya dan dibunuh secara kejam oleh para Kaisar Romawi di jaman itu, seperti Nero, yang membakar tubuh orang Kristen dan menjadikannya obor penerang jalan, atau menjadikan para pengikut Kristus termasuk wanita dan anak-anak sebagai mangsa singa. Namun, sekalipun mengalami berbagai kekejaman, para pengikut Kristus di jaman gereja perdana tetap setia kepada Yesus. Jika tidak menyaksikan sendiri bahwa Yesus itu benar-benar Allah, mungkin mereka tidak akan rela mengorbankan diri.
Jadi, pertanyaan apakah Yesus tidak mati disalib tetapi langsung naik ke surga (pandangan kaum Muslim) ataukah Yesus mati disalib dan bangkit kembali untuk menebus dosa manusia (pandangan kaum Kristen), biarlah semua ini menjadi iman kepercayaan masing-masing penganut agama. Sebagai orang Kristen Katolik, iman kepercayaan kita tidak perlu goyah karena membaca Injil Barnabas atau Novel Da Vinci (bahkan akhir-akhir ini juga muncul film Mesias versi Iran) karena kita toh tidak hidup di jaman itu sehingga tidak menyaksikan sendiri faktanya.
Tuhan memberkati.
bagi saya Agama adalah sarana menuju Keselamatan, dan bukan keselamatan itu sendiri. Bukan berarti ketika saya beragama “A” saya pasti selamat. nope!
Seringkali saya menyesalkan bagi mereka yang menganggap Tuhan adalah sesbuah sosok, atau kita orang kristiani memandang Yesus sebagai sebuah figur namun tidak memandang Ia sebagai sebuah teladan.. atau memandang Yesus sebagai kata Benda dan Kata Orang namun tidak memandang Yesus sebagai kata sifat.. atau memandang Yesus secara tersurat namun tidak memandang dan menggali yang tersirat..
hal tersebut diatas membuat diri kita terjebak pada suatu paham Fanatisme yang sempit dan Arogan, menjadi sulit melepaskan akal budi dan pikiran kita tentang bagaimana kita menyikapi lingkungan dengan bijaksana. Menjadikan kita sebagai kaum Eksklusive dibalik dalil baju pertahanan Agama. dan pastinya semua itu akan membawa kita pada pemikiran “KASIH” yang sangat sempit.. bukan seperti “KASIH YESUS”
KASIH YESUS adalah kasih yang universal, Ia tidak memandang Suku, Ras, Agama, dll..
dan menurut saya bukan hanya kita (orang Kristiani) yang bisa dan berhak atas Kasih itu saja, namun seluruh umat manusia berhak dan bisa melaksanakan kasih itu.. karena siapapun dia (contoh si “A”), apapun agamanya, ketika si “A” melaksanakan hukum kasih, sebenarnya Yesus tinggal dalam hatinya, yang membedakan antara si A dan kita adalah Si A belum mengenal Yesus sedangkan kita sudah, jadi itulah nilai tambah kita.. hehe..
Menjadi Pewarta Kabar Gembira, sebenarnya bukan berarti harus dengan melakukan Penginjilan, atau Misionaris masuk ke padalaman menceritakan tentang Injil, dan kemudian mengajak mereka untuk dibabtis. Namun yang jelas kita sebagai orang kristiani harus bisa memposisikan diri kita sebagai Garam dan Terang di lingkungan kita.. ketika orang lain merasakan kebahagiaan, kedamaian, dan kesukaaan besar akan Allah, dan itu karena kita : Maka sebenarnya kita telah mewartakan kabar gembira..
Yesus pernah bersabda: …Jadikanlah semua bangsa MuridKU”
inipun jangan kita pandang secara sempit, dan harus bijaksana dalam mensikapinya. sebenarnya bukan harus dengan menjadikan mereka Kristiani untuk jadi Pengikut Kristus, namun dengan mengajarkan nilai “KASIH”. maka ketika kita berhasil mengajak orang untuk berbuat “KASIH” kita telah mendapatkan satu murid untuk ‘YESUS”, syukur2 mau ikut di babtis.. hehe..
Dengan menjadikan semua orang di Dunia Kristiani, bukan jaminan kedamaian sejati dapat terwujud.. Namun dengan menjadikan seluruh dunia Murid Yesus yang mengerti dan mengaplikasikan hukum KASIH maka saya percaya : Damai Dunia terwujud.. (hehe.. bisa ga ya?..)
Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Islam yang kental.
karena ayah saya dulunya adalah seorang muslim, sehingga semua saudara saya adalah muslim. Namun syukur kepada Allah bahwa mereka baik adanya, selalu toleran dan saling mengasihi.
Bahkan seringkali ketika hujan, mereka (saudara2 saya yang muslim) mau berepot2 untuk antar jemput saya dan keluarga ketika hendak berangkat ke gereja. ataupun ketika Natal, mereka datang kerumah, membawakan makanan, saling mengucapkan natal, dan bergembira bersama di rumah kami. Begitupun sebaliknya ketika mereka berlebaran..
hehe.. pokoknya KASIH itu begitu RRRRuuuaaaarrr Biiiaaasssaaa..
-Damai Kristus Beserta Kita-
Terima kasih ya, atas sharing anda yang sangat bagus. Ya, memang kita sebagai pengikut Kristus mempunyai tantangan untuk melaksanakan hukum KASIH itu. Nah mengenai hal ini, kita sesungguhnya dapat bersandar pada prinsip yang kita ketahui dari Alkitab, dan pengajaran Gereja, yaitu:
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Itulah kenapa pada jaman dahulu banyak orang yang tidak setuju dengan cara Yesus bahkan Dia ditolak oleh bangsaNya sendiri.
sewaktu Yesus disalibkan malah masih mengampuni orang romawi yang menyiksa Dia.
Adakah nabi atau apapun orang suci yang mampu seperti Dia?.
kemudian Yesus selalu memberi perumpamaan dan itu kenapa?.
sampai ribuan tahun perumpamaan tersebut masih berlaku?.
adalah karena kita manusia tidak bisa menerima KEBENARAN.
Jujur saja pada diri sendiri.
Kalau ada jalan tol menuju surga, mengapa memeilih lewat jalan tikus ?
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah
Salam sejahtera bagimu
Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan. Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!”
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah
* surat Rosulullah SAW. kepada Kisra, melalui jalan Ibnu Ishaq yang
isinya; Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Kisra Penguasa Persia!
Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah
dan Rosul-Nya, bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah semata yang tida
sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku ajak
kamu dengan ajakan Allah, aku utusan Allah untuk seluruh manusia,
supaya aku memberi peringatan orang yang hidup dan berkata benar kepada
orang-orang kafir. Jika mau masuk Islam kau selamat, dan jika enggan
maka kau menaggung dosa orang-orang Majusi.
* Demikian isi surat ini yang dikirim nabi kami kepada raja romawi yang beragama nasrani, raja habasyah yang beragama nasrani, raja persia yang beragama penyembah api. maksud dan
tujuan kami adalah menyampaikan ilmu, maukah kamu masuk Islam ? semoga kamu mendapat hidayah dan
petunjuk.
Pertama-tama, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Terima kasih anda sudah mengunjungi web-site ini. Memang untuk mengikuti kebenaranlah kita sama-sama berjuang di dalam hidup ini. Bagi kami kaum Nasrani, kami menemukan kebenaran di dalam Yesus Kristus, yang berkata, "Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6).
Kami meyakini bahwa kami menyembah Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, sesuatu yang mungkin dianggap tidak masuk di akal bagi orang-orang yang bukan beragama Kristen, namun bagi kami, itu justru merupakan misteri Allah yang teragung (silakan baca Trinitas: Allah yang satu dalam tiga Pribadi).
Pertanyaannya, kenapa kita percaya akan Yesus Kristus, pribadi ke dua dari Trinitas, yang menjelma menjadi manusia? Ada tiga alasan yang dapat kami kemukakan, dimana tiga alasan ini disebut "motive of credibility".
Semasa hidup Kristus di dunia, kuasa Allah ditunjukkan di dalamNya dengan Ia melakukan banyak mukjizat-mukjizat, dari meredakan angin ribut, mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, sampai membangkitkan orang mati, termasuk juga kebangkitanNya sendiri dari kematian-Nya (Silakan membaca: Kristus yang kita imani= Yesus yang menurut sejarah).
Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kristus datang untuk mendirikan Gereja yang dibentukNya sendiri untuk terus bertahan sampai akhir jaman, dan itu berada di dalam Gereja Katolik. Paus pemimpin Gereja ini dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Petrus, Rasul Yesus Kristus. Hal ini juga merupakan sesuatu mukjizat tersendiri, sebab jika Gereja hanya ‘organisasi’ manusia, maka sudah sejak lama ia bubar/ tak bertahan. Untuk lengkapnya, silakan membaca: mengapa kita memilih Gereja Katolik.
Salam damai dari
ingrid & stef – http://www.katolisitas.org
Ya, memang benar kita tidak perlu menyangsikan ke-Tuhanan Yesus. Oleh karena iman kita kepada Yesus Tuhan inilah, kitapun mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskannya jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang ke-Tuhanan Yesus itu. Untuk maksud inilah artikel di atas ditulis, mengingat banyaknya informasi yang beredar di sekitar kita, baik dari buku maupun mas media yang mempertanyakan hal itu. Kita sebagai orang Katolik sebaiknya tidak saja mengimani, tetapi juga mengetahui bahwa iman kita sungguh berdasarkan atas apa yang terjadi secara nyata, baik yang dikatakan oleh Yesus sendiri, maupun yang diteruskan oleh para rasulNya. Jadi, saya setuju dengan Veronica, bahwa kita tidak ingin berpolemik sendiri di sini, namun kita memenuhi apa yang diajarkan oleh Rasul Petrus, " …Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat…" (1Pet 3:15).
Selanjutnya memang, kita perlu terus berdoa, terutama juga mendoakan mereka yang mempertanyakan ataupun yang menyangsikan ke-Tuhanan Yesus itu, agar Tuhan sendirilah yang menyentuh hati mereka dan menuntun mereka kepada kepenuhan kebenaran. Mohon dukungan doa dari Veronica, sehingga bersama-sama kita dapat mewartakan kebenaran Tuhan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Sebenarnya kitab Injil adalah sumber yang tepat yang dapat anda baca untuk mengetahui sikap Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Gereja Katolik berdasarkan Alkitab dan pengajaran para Bapa Gereja mengajarkan bahwa selama penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus Kristus sebagai Putera Allah tidak berhenti menjadi Allah. Maka ketika menjalani hidup-Nya sebagai manusia, Yesus adalah sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Oleh sebab itu, kita tidak bisa memisahkan Yesus menurut sejarah (dari segi manusianya) dan Kristus yang kita imani (dari segi ke- Allahan-Nya), seperti yang sudah pernah dituliskan di dalam artikel ini, silakan klik. Prinsipnya, dalam diri Yesus, kedua kodrat ini (Allah dan manusia) bersatu sedemikian rupa, namun tidak tercampur aduk, sehingga masing-masing kodrat tetap dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan sifatnya. Misalnya sebagai manusia Yesus bisa lapar, haus, letih dst, sedangkan sebagai Allah, Ia dapat membuat berbagai mukjizat atas nama-Nya sendiri, mengampuni dosa manusia, dan akhirnya bangkit dari kematian.
Maka dari sini tidak dapat dikatakan bahwa sikap Yesus ‘kerasukan’, seperti yang anda sebutkan. Saya malah merasa pertanyaan ini berpretensi negatif, seolah-olah anda beranggapan bahwa Yesus bukan Tuhan, sehingga anda dapat mengatakan Ia ‘kerasukan’ Tuhan. Lagipula kata ‘kerasukan’ itu konotasinya negatif, sepertinya dikuasai oleh kuasa jahat di luar diri seseorang. Tentu jika kita membaca Kitab suci, kita melihat tidak demikian halnya dengan Yesus. Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, sehingga ke-Allah-an-Nya tidak mungkin menyebabkan Ia ‘kerasukan’. Tidak ada seorangpun yang ‘kerasukan’ dapat melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan oleh Yesus. Yesus mengajar, membuat mukjizat-mukjizat, memberi teladan kasih, yang semuanya dari Allah karena Ia sendiri adalah Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org